Tragedi Alif dan Cermin Buram Layanan Kesehatan di RSUD Batam

Kamis, 19 Juni 2025 - 21:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Batam Amsakar saat di rumah duka, Kamis (19/6/2025). Foto:Diskominfo

Wali Kota Batam Amsakar saat di rumah duka, Kamis (19/6/2025). Foto:Diskominfo

Dugaan penolakan pasien di RSUD Embung Fatimah tak sekadar membuka luka keluarga Muhammad Alif Okto Karyanto (12), tetapi juga menelanjangi wajah layanan kesehatan publik yang masih jauh dari kata humanis.

Pemerintah Kota Batam, dalam hal ini RSUD sebagai garda depan, gagal menunjukkan empati dalam situasi krisis yang menyangkut nyawa.

Kematian Alif menjadi alarm keras bahwa prosedur teknis dan regulasi administratif belum sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil. Ketika seorang anak sakit dini hari dan keluarganya mencari pertolongan, harapan terakhir mereka seharusnya bukan ditimbang lewat surat rujukan atau status kepesertaan BPJS.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memang turun langsung melakukan inspeksi dan menemui keluarga korban. Langkah itu patut diapresiasi, tetapi pertanyaannya: mengapa tragedi harus terjadi dulu baru ada aksi?

“Kalau pasien datang dalam kondisi butuh dirawat, layani dulu. Masalah pembiayaan, kalau tak ter-cover BPJS, kita pikirkan jalan keluarnya,” kata Amsakar dikutip dalam siaran pers Diskominfo Batam pada Kamis (19/6/2025).

Pernyataan ini justru memperlihatkan kontradiksi: jika solusi semudah itu, mengapa tidak menjadi kebijakan baku sejak awal? Mengapa harus menunggu korban?

Kritik juga tertuju pada sistem komunikasi rumah sakit yang lemah. Saat informasi liar menyebar, RSUD terkesan lamban menjelaskan duduk perkara. Fungsi kehumasan nyaris tak terlihat. Di tengah derasnya arus informasi digital, ketidaksigapan merespons bisa berubah menjadi krisis kepercayaan publik.

Akar persoalan bukan sekadar pada satu kejadian, melainkan pada sistem layanan kesehatan yang belum dibenahi secara menyeluruh. Tragedi Alif bukan insiden pertama, dan bisa saja bukan yang terakhir jika reformasi pelayanan hanya berhenti di tataran seremonial.

Wajah layanan kesehatan tidak bisa hanya ditampilkan saat peresmian gedung dan alat canggih. Ia diuji justru di saat krisis – saat pasien datang dengan harapan terakhir, dan petugas dituntut memberi lebih dari sekadar prosedur: empati, keberanian, dan nurani.

 

Penulis:Yoga|Editor:Zalfi

Berita Terkait

Sidang PNBP Pandu-Tunda Batam: Fakta Persidangan Ungkap Kronologi Operasional Sejak 2015
TelkomGroup Fokus Pulihkan Trauma Anak Korban Banjir Aceh Tamiang
OJK Resmikan Departemen Pengembangan UMKM & Syariah serta Direktorat Pengawasan Perbankan Digital
BP Batam Hadiri Rakornas Kepegawaian 2025, Dukung Peningkatan Talenta SDM Demi Wujudkan Asta Cita
Hadiri ALFI Convex 2025, BP Batam Dorong Penguatan Sektor Logistik
Era Transformasi Transmigrasi, Kepala BP Batam: Pelatihan 504 KK Calon Transmigran Rempang Eco-City Ciptakan Peluang Ekonomi Baru
Opus Bay Buktikan Diri Bukan Sekadar Properti, tapi Pusat Gaya Hidup Modern Batam
Eksklusif! Timezone Hadirkan Animal Kaiser+ Versi 2 di 41 Lokasi
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:04 WIB

Sidang PNBP Pandu-Tunda Batam: Fakta Persidangan Ungkap Kronologi Operasional Sejak 2015

Rabu, 31 Desember 2025 - 21:58 WIB

TelkomGroup Fokus Pulihkan Trauma Anak Korban Banjir Aceh Tamiang

Sabtu, 20 Desember 2025 - 17:04 WIB

OJK Resmikan Departemen Pengembangan UMKM & Syariah serta Direktorat Pengawasan Perbankan Digital

Rabu, 19 November 2025 - 21:38 WIB

BP Batam Hadiri Rakornas Kepegawaian 2025, Dukung Peningkatan Talenta SDM Demi Wujudkan Asta Cita

Kamis, 13 November 2025 - 16:47 WIB

Hadiri ALFI Convex 2025, BP Batam Dorong Penguatan Sektor Logistik

Berita Terbaru